Pages

Friday, November 1, 2019

Pandangan Kadin Soal Peran Swasta Dalam Proyek Ibu Kota Baru

Jakarta, CNBC Indonesia- Komisi Tetap Pengembangan Infrastruktur Kadin, Dandung Sri Harninto menyebutkan saat ini penting keberpihakan pemerintah dalam mendorong kontribusi swasta di sektor infrastruktur. Begitupun dalam proyek pemindahan dalam ibu kota baru kesempatan swasta dirasa cukup sulit dan banyak tantangan.

Selengkapnya simak dialog Erwin Surya Brata dengan  Komisi Tetap Pengembangan Infrastruktur Kadin, Dandung Sri Harninto  dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Selasa, 29/10/2019).

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/33eGPrS
via IFTTT

Wall Street Ditutup Melesat Sambut Data Tenaga Kerja AS

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat dibuka melesat pada penutupan perdagangan Jumat (1/11/2019). Ini mencetak rekor ketiga kalinya untuk penutupan perdagangan minggu ini setelah muncul sentimen positif investor dipicu data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan.

Selain juga, data manufaktur China yang membaik meredakan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) melompat 300,86 poin (1,11%) menjadi 27.347,09. Indeks Nasdaq naik 94,04 poin (1,13%) ke 8.386,4 sementara indeks S&P 500 bertambah 29,36 poin (0,97%) ke 3.066,92.


"Kejutan yang menyenangkan, dan juga ada revisi ke atas untuk September dan Agustus. Bagi kami itu adalah indikasi ketahanan ekonomi di akhir siklus ini dan untuk hari ini itulah yang membuat para investor merasa nyaman dan menempatkan dana mereka di sini," kata Ahli strategi investasi regional di Wealth Management Bank AS seperti dikutip dari Reuters.

Ketegangan dagang antara AS dan China yang masih berlanjut berhasil menguatkan perdagangan di bursa saham karena kedua negara dikabarakan telah kembali berdiskusi untuk menemukan kesepakatan yang baik.

Sebelumnya, bahkan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan fakta perdagangan "fase satu" dengan China tampaknya dalam kondisi baik.

Sebagai informasi, AS mencatatkan tambahan lapangan kerja untuk 128.000 orang pada Oktober, meski 42.000 pekerja menganggur akibat mogok pabrik General Motors (GM). Ekonom dalam polling Dow Jones memperkirakan tambahan hanya 75.000 lapangan kerja.

Data pertumbuhan lapangan kerja September dan Agustus juga direvisi naik menjadi 180.000 dari sebelumnya 136.000. Pertumbuhan tersebut direvisi menjadi 219.000 dari sebelumnya 168.000.

Institute for Supply Management bakal merilis data aktivitas manufaktur AS untuk Oktober. Sebelumnya pada September, angka indeks manufaktur anjlok ke level terendah dalam 1 dekade terakhir menyusul kekhawatiran pembicaraan dagang AS dan China.

"Peluang secara keseluruhan akan tercapainya perjanjian dagang dan risiko kegagalan menurut pandangan kami cenderung melemah," tutur pendiri dan Kepala Riset Fundstrat Global Advisors Tom Lee.

Namun mendekat akhir tahun, lanjutnya, posisi tawar China bakal menguat karena jika pasar anjlok terkait dengan kegagalan kesepakatan perang dagang, posisi Trump bakal terancam secara politis dalam pemilu 2020.

Exxon Mobil menjadi saham dengan kinerja terbaik menyusul kuatnya kinerja kuartal III-2019. Saham U.S. Steel naik sekitar 5% setelah perseroan melaporkan rugi bersih yang membaik melampaui ekspektasi.

(dru)

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/36qxfUu
via IFTTT

Melihat Fenomena Ojol Baru Bonceng, Bakal Sikat Gojek-Grab?

Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir-akhir ini bermunculan penantang baru Gojek dan Grab. Namun, untuk menumbangkan kekuasaan duopoli ojek online (Gojek dan Grab) ini bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh.

Sebenarnya para "penantang" sudah banyak bermunculan sejak dulu, tetapi sayangnya mereka harus rela tumbang karena tak mampu bersaing. Sebut saja Call Jack, Ojekkoe, Topjek, OjekAgro, Taxi Motor, Ladyjek, Bangjek, Bluejek, dan Smartjek.

Walau korban yang berjatuhan banyak, penantang terus saja bermunculan. Perkenalkan mereka ini adalah Bonceng, Anterin, Beujek, Gaspol, Cyberjek dan Bitcar yang siap menggeser hegemoni Grab dan Gojek.

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah, mampukah mereka (para penantang baru) menyaingi Gojek dan Grab?

Well, kalau membahas tentang persaingan sebenarnya mereka "para penantang" baru ini tidak bisa dibilang penantang langsung Gojek dan Grab, karena keduanya telah menjelma menjadi on demand apps bahkan super apps.

Gojek dan Grab tidak hanya menyediakan layanan transportasi point to point, tapi juga layanan pesan antar makanan, layanan antar barang hingga transaksi melalui uang digital seperti Gopay dan OVO.

Bahkan Gojek sudah dinobatkan sebagai super apps yang menunjukkan eksistensi dan positioning Gojek sebagai piranti serba bisa. Gojek menawarkan berbagai layanan yang dapat memudahkan hidup sehari-hari mulai dari layanan servis kendaraan hingga layanan perawatan tubuh dan kecantikan.

Mengusung tag line "Pasti Ada Jalan" dan "Aplikasi untuk Semua", Gojek dan Grab telah sukses menjadi pionir dalam membangun ekosistem digital di kawasan Asia Tenggara.

Memilih untuk berkonfrontasi dengan Gojek dan Grab berarti harus siap bersaing dengan ekosistem digital yang juga mereka bangun. Menantang entitas bisnis dengan ekosistem digital yang solid tentu bukan perkara mudah.

Misalnya Gojek dengan adanya Gopay dan fitur Pay Later, pengguna layanan dimudahkan dalam bertransaksi mengingat tren yang terjadi saat ini menuju ke cashless.

Untuk bisa membangun ekosistem digital yang mengintegrasikan ride hailing service dengan fintech butuh sumber daya manusia yang unggul, investasi pada infrastruktur digital hingga pendanaan yang mencukupi.

Itu adalah tantangan pertama yang dihadapi oleh Bonceng dkk. Selain model bisnis, tantangan yang dihadapi oleh para ojol baru ini adalah tren perilaku pengguna aplikasi.

[Gambas:Video CNBC]

Let's block ads! (Why?)



from CNBC Indonesia https://ift.tt/2WykBhT
via IFTTT