
Diwawancara eksklusif oleh Reuters, Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, memperkirakan permintaan minyak tahun ini adalah 1,1 juta barel per hari. Di awal 2018 lalu, IEA memprediksi permintaan minyak dunia mencapai 1,5 juta barel per hari, kemudian diturunkan menjadi 1,2 juta barel per hari di Juni 2018.
Bahkan menurut Birol, permintaan minyak bisa lebih rendah dari 1,1 juta barel per hari, bila pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya China, melambat lebih dalam.
"China mengalami pertumbuhan ekonomi terlemah dalam 3 dekade terakhir, demikian juga dengan sejumlah negara maju. Bila ekonomi dunia jatuh lebih dalam lagi, maka permintaan minyak bisa turun lagi," kata Birol seperti dikutip dari Reuters, Jumat (19/7/2019).
Permintaan minyak dunia memang dihantam keras perang dagang yang terjadi. Belum lagi, suplai minyak meningkat akibat peningkatan produksi shale oil di AS.
Produksi minyak AS diperkirakan mencapai 1,8 juta barel per hari di 2019, di bawah produksi pada 2018 lalu yang mencapai 2,2 juta barel per hari.
IEA memantau perkembangan tensi politik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi rute vital pengiriman minyak dari wilayah Teluk ke pasar Asia, Eropa, Amerika Utara, dan ke wilayah lain di dunia.
Selat Hormuz penting, karena sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sepertiga dari perdagangan minyak dunia, dikirim melewati selat tersebut.
Sejumlah produsen minyak utama dunia mencari rute alternatif pengiriman minyak. Irak berencana untuk mengekspor minyaknya melewati Pelabuhan Ceyhan di Turki. Serta membangun jalur pipa pengiriman minyak ke pelabuhan di Suriah, Lebanon, dan Arab Saudi.
Soal harga ke depan, Birol mengatakan, harga minyak akan datar berada di kisaran US$ 65/barel. Dia melihat tidak akan ada lompatan harga minyak yang tinggi karena suplai minyak dunia melimpah saat ini. (wed/hoi)
from CNBC Indonesia https://ift.tt/2LZppcU
via IFTTT
No comments:
Post a Comment